Gemar kumpulkan kekurangan orang lain, untuk lebih nyaman tutupi kurangnya diri. Rasa takut bisa secerdik itu.
Yang kuat, yang terima diri. Yang akui kadang diri tidak sekuat biasanya. Kadang lakukan kesalahan, kadang buat orang kecewa.
Yang berani, yang terima diri. Yang terima ada hal-hal yang belum sanggup, yang mengerti tidak bisa selalu baik.
Yang hebat, yang terima diri. Yang sadar bahwa diri tidak bisa terus disukai semua orang, untuk terus benar di mata orang.
Yang baik, yang terima diri. Yang sabar untuk bersinar, yang terima kadang orang terdekat kadang jadi penyebab hancur dan yang jauh yang bisa menghargai.
Saat diri ingin mengakui perlu bantuan,
saat tubuh bergerak mencari pertolongan,
saat itu juga semua rasa yang menekannya perlahan melunak.
Mereka luruh bersama penderitaan orang lain yang sesungguhnya, dan kita, mulai terbentuk.
Karena penderitaaan, tidak berkurang hanya ketika berhasil diselesaikan sendiri, namun juga saat menerima bahwa diri ternyata perlu bantuan.
Kita dan isi bumi terkoneksi. Menyembuhkan diri, berarti menyembuhkan isi bumi. Begitupun saat melukai orang lain, berarti melukai isi bumi, berarti melukai diri sendiri.
Didunia yang serba terkoneksi ini, setiap orang seolah tak punya celah untuk kesunyian. Kita kesepian dengan kemarahan kita, kesepian dengan rasa sayang kita, dengan kecemasan kita, dengan kecemasan kita.
Dikelilingi orang yang terlihat berbahagia, penderitaan yang kecil jadi terasa berkali-kali lipat besarnya. Mungkin yang kita ingin bukan berbahagia, tapi merasa tidak apa apa ketika tidak bisa berbahagia.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar